masih belajar gambar, bukan mau sombong
landscaper
Sabtu, 28 November 2015
Sabtu, 14 November 2015
Sabtu, 29 Agustus 2015
Cerpen Remaja Laah
Asrama
Tempat Berbagi Kutu
“Huh capek”
sambil menjatuhkan badan ke kasur asrama yang super keras (sungguh suatu
keberuntungan mendapatkan kasur itu). Itulah kebiasaan seorang mahasiswi TPB
IPB setelah seharian penuh beraktivitas. Sebut saja namanya Tika, ia seorang
remaja yang enerjik dan senang melakukan aktivitas yang bersifat sosial, bahkan
ketika tidak ada kegiatan apapun ia selalu menyibukan diri dengan mengusili
orang lain atau bercanda dan membuat orang lain tertawa atau bahkan menjadi
kesal padanya. Yah begitulah hidupnya.
Sebagai seorang remaja yang baru belajar hidup mandiri
dan jauh dari orang tua, terasa sulit baginya untuk beradaptasi secara cepat di
lingkungan barunya yakni Kota Bogor lebih tepatnya asrama TPB IPB yang jaraknya
sekitar 5 cm dari kota asalnya Garut. Itu jika dilihat dari peta dengan skala 1:36
km, jadi jika dihitung-hitung jarak sebenarnya adalah 180,6 km dan dapat
ditempuh dengan kendaraan umum selama 5-6 jam itupun jika tidak terkena macet,
jikalau terkena macet perjalanan dapat ditempuh selama 10 jam atau bahkan
lebih. Jadi, dapat dibayangkan betapa beratnya menjadi seorang sepertinya,
namun jika dibandingkan dengan teman-temannya yang sampai harus menyebrang
pulau untuk menepuh pendidikan di kampus tercinta ini, ia masih belum seberapa.
Yah itulah sedikit intermezzo tentang
sulitnya menjadi mahasiswa yang baru beranjak dari sekolah menengah atas. Perlu
waktu yang cukup panjang untuk bisa menyesuaikan diri.
Di
sini, setiap hari adalah hari sibuk baginya termasuk hari sabtu dan minggu yang
banyak orang bilang sebagai weekend,
tapi baginya week is never end. Terlebih
lagi untuk semester genap, ia mendapatkan jadwal kuliah pagi dari hari senin
hingga jumat. Senin adalah hari tersibuk baginya karena ia mendapatkan dua mata
kuliah dengan satu kali praktikum. Sedangkan rabu adalah waktu tersantai karena
ia hanya mendapatkan satu mata kuliah yang terhitung ringan karena tidak begitu
menguras pikirannya meski harus menguras tenaganya yakni olahraga dan seni.
Meskipun begitu ia harus tetap bersiaga bagai anjing penjaga jika tiba-tiba ada
rapat dadakan dewan gedung, UKM maupun OMDA. Belum lagi kegiatan-kegiatan kecil
lainnya yang cukup menguras waktu.
Seperti
biasa, Tika selalu memulai pagi dengan mandi, beribadah, sarapan dan berangkat
kuliah. Hari senin diawal semester genap ia jalani dengan penuh semangat.
Berangkat kuliah pagi dengan senyum yang lebar selebar badannya. Pulang kuliah
pertama masih dengan senyumnya yang lebar. Berangkat kuliah kedua, hanya senyum
saja. Pulangnya ‘hanya senyum saja’ juga. Berangkat kuliah ketiga, bibirnya
mulai rata tanpa senyuman dan pulang kuliah terakhir ini bulan sabit
dibibirnyapun jadi melengkung kebawah bagaikan simbol irisan dalam mata kuliah
landasan matematika tentang peluang (yah mungkin di pengantar matematika atau
kalkulus juga sudah dipelajari, saya mengambil contoh LM karena ia berada di
kelas P hehe). Kuliah untuk hari senin berakhir jam 16.40, kemudian ia isi sisa
harinya dengan mandi sore dan mencuci rambutnya yang sudah lepek akibat
keringat yang tertahan oleh jilbab, belum lagi cuaca Kota Bogor yang begitu
panas jika dibandingkan Garut sehingga memaksanya untuk mandi dua kali sehari.
Sungguh berbanding terbalik dengan kebiasaannya ketika masih tinggal di Garut
yang hanya mandi dua hari sekali. Setelah itu, sambil menunggu rambutnya kering
ia pun bercuap-cuap bersama teman-teman selorongnya yang sejenis. Anda ingin
tahu apa yang mereka perbincangkan? Check
this out!
“Eh
tau gak sih, tadi gue ketemu cowok ganteng loh di Bara” kata Tika dengan
menggebu-gebu menceritakan mangsa barunya
“Oh
iya? Emang kapan lu ke Bara? Bukannya seharian tadi lu kuliah?”
“Tadi
sebelum masuk kuliah fisika gue makan siang dulu di Bara bareng temen sekelas
gue, terus gue ketemu deh sama cowok cakep di rumah makan ‘ttiiiiiitt’
(disensor), terus dia ngeliat gue dan gue juga ngeliat dia, jadinya kita ketemu
mata gitu deh hehe”
“Oh
iya? Emang secakep apa doi? Pasti masih cakepan cowok yang gue taksir di kelas
lah, iya kan?” sahut temannya yang bersikukuh mempertahankan pendapatnya bahwa
si ‘ttiiiiiiitt’ (disensor) lebih tampan dibanding laki-laki manapun yang
pernah diceritakan Tika dan akhirnya obrolan mereka pun diakhiri dengan perang
dingin, karena mereka berdua bersikukuh dengan pendapat mereka masing-masing
tentang laki-laki yang mereka sukai padahal kedua laki-laki itupun belum tentu
mempedulikan mereka.
Keesokan
harinya, jadwal Tika pun semakin memadat karena dimalam harinya ada soga
lorong. Sebagai pemimpin di lorongnya ia harus melaksanakan perannya sebagai
akibat dari status yang ia emban sebagaimana yang baru dipelajarinya di mata
kuliah Sosiologi Umum. Namun, meskipun
jadwal hari selasa lebih padat dibanding hari senin, ia masih dapat
menyempatkan diri untuk membersihkan diri dengan mandi dan berkeramas lagi.
Hari pun terus bergulir dan jadwal kegiatan Tika pun terus memadat. Bahkan
untuk sekedar bercuap-cuap dan mandi sore pun sudah tidak bisa ia lakukan lagi
karena ia selalu pulang jam sembilan malam sebelum jamal atau bahkan sesudah jamal.
Fokus hidupnya kini sudah berganti. Kesibukan terus merenggut waktunya, waktu
tidur, waktu menonton video, waktu bercuap-cuap, waktu membaca novel, dan
bahkan waktu mandi dan mencuci rambut, tapi tidak untuk waktu beribadah dan
waktu makan. Ia selalu memprioritaskan kedua waktu tersebut, karena itu adalah
modal awalnya untuk beraktivitas.
Kesibukan
membuatnya tidak dapat mengurus diri. Bahkan pernah dalam satu minggu ia tidak
mandi selama tiga hari berturut-turut (anda ingin tahu bagaimana caranya menutupi
aib tersebut? Silahkan tanyakan langsung kepada yang bersangkutan, saya dengar
ia berencana untuk meng-upload video
tutorial tetap berpenampilan prima meskipun tidak mandi selama tiga hari atau
lebih). Bau badan masih dapat teratasi dengan perfume dan deodorant.
Mungkin sedikit gatal baginya tidak begitu mengganggu. Tapi yang menjadi
masalah adalah RAMBUT. Entah abad kapan rasanya ia terakhir kali mencuci rambut
lepeknya yang penuh dengan keringat dan bau yang mulai menyengat itu. Suatu
hari, terjadi sesuatu yang aneh.
“Hah?”
terkaget-kaget ia ketika harus menerima kenyataan yang begitu pahit bahwa kini
kepalanya telah memiliki ekosistem. Mungkin si kutu pun tersenyum gembira
ketika melihat sang pemilik rumah meski ia harus mati dengan satu genjatan kuku.
Tika harus beradaptasi dengan kehadiran kutu yang sangat tidak diharapkan di
kepalanya itu, untung saja hal tersebut masih dapat ia tutupi pula dengan
jilbabnya. Semenjak kehadiran kutu itu ia mulai rajin berkeramas dan mandi lagi
setiap harinya, namun sayang kutu-kutu sudah merasa nyaman di rumah barunya.
Tika pun bingung asal kutu itu dari mana.
Kini
ia sudah terbiasa dengan yang namanya kutu kepala. Permasalahan itu tak pernah
ia ceritakan kepada teman-teman sekamar apalagi selorongnya karena ia merasa
malu untuk bercerita. Namun akibat sifatnya yang menutup-nutupi itu, timbullah
masalah baru. Kini semua teman sekamarnya berkutu juga. Di satu sisi ia merasa
bersalah karena telah menyebarkan virus kutu itu, namun di sisi lain ia pun
merasa senang karena memiliki teman seperjuangan.
“Aduh
kok gue jadi punya kutu sih” kata teman sekamarnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Lu
kutuan? iiuuh jauh-jauh lu dari gue! Nanti terbang lagi kutunya ke rambut gue”
sahut teman sekamarnya yang lain dengan nada bercanda.
“Diem
lu ah! Gatel nih. Dari mana sih nih asalnya kutu? Kok bisa hinggap di rambut
gue sih?” kata teman sekamarnya yang terkena kutu itu dengan nada kesal.
Melihat itu, Tika hanya bisa diam saja dan pura-pura tidak tahu apa-apa.
Keesokannya
lagi ketika semua teman sekamar berkumpul di malam hari kecuali Tika,
tiba-tiba…
“Ih
‘ttiiiiitt’ (naman teman sekamarnya disensor), kok gue jadi kutuan juga sih?
Ini pasti kutu dari lu kan?” menunjuk kepada teman sekamarnya yang pertama
terserang kutu.
“Kalian
kutuan? Aduh jangan-jangan gue juga terserang kutu” seru teman sekamarnya yang
lain segera mengambil sisir dan ternyata ia pun terserang kutu kepala juga.
“Ih
enak aja lu, kok jadi nyalahin gue sih? Awalnya juga kan bukan dari gue, gue
juga mana tau asalnya dari mana” dengan nada membela diri.
(ckrek)
“assalamu’alikum, aku pulang” Tika pulang ke kamar dengan ceria sambil membawa
makanan namun semua mata tajam temannya tertuju padanya.
“Tik,
lu kutuan gak?”
“Hhmm,
kenapa? Memangnya kalian punya kutu? Kutu apa sih yang kalian bicarain?” sambil
memasang wajah polos seakan tidak tahu-menahu mengenai hal itu.
“Yah
memang kutu apa lagi? Kalau kutu buku mah udah jelas si ‘ttiiitt’” kata
temannya sambil melirik tajam ke si ‘ttiiiitt’ itu yang memang agak tidak
disukai oleh teman-teman yang lainnya.
“Haha
oh kutu itu” Tika masih bersikeras berpura-pura tidak tahu.
“Iya
kutu kepala Tikaku sayang”
“Oh
kutu itu, ya udah deh gue ngaku kalau gue emang punya kutu lebih awal dari
kalian, tapi kutu gue udah gue ajarin buat gak nyelonong ke rumah orang
sembarangan kok, jadi kalau kalian kena kutu juga pasti bukan dari gue” Tika
bersikeras menyangkal.
“Oh
iya? Emang lu kursusin kutu-kutu lu di mana? Kursusin kutu-kutu gue juga dong,
biar mereka terpelihara dengan baik hehe” sahut temannya dengan nada mengejek.
Tika
sedih mendengar hal itu, ia merasa bersalah karena telah menyebarkan kutu ke
teman-teman sekamarnya. Namun ada salah seorang teman sekamarnya yang dengan
bijaksana memberikan solusi dari permasalahan mereka tanpa menyalahkan siapa
pun karena sudah jelas ini semua adalah salah kutu. Teman sekamarnya itu segera
membawa pembasmi kutu kepala Peditox (merk sengaja disebutkan karena obat ini
memang benar-benar ampuh dalam membasmi kutu kepala, dan mudah-mudahan obat ini
juga dapat menolong teman-teman asrama lain yang juga memiliki permasalahan
yang sama) yang ia dapat dari teman selorongnya yang juga pernah memiliki
permasalahan yang sama. Akhirnya, mereka pun menggunakan obat itu secara bersamaan
malam itu juga sebelum pencemaran terjadi secara global. Kini kehidupan kamar
pun terasa tentram tanpa kutu.
Langganan:
Postingan (Atom)







